Kehilangan Arah di Usia 20-an? Kenali Mitos Jalur Linier
- Relive id
- 3 hari yang lalu
- 4 menit membaca
Kehilangan Arah di Usia 20-an? Kenali Mitos Jalur Linier
Bayangkan kamu sedang berdiri di sebuah persimpangan jalan tanpa papan penunjuk arah, sementara orang-orang di sekitarmu berjalan dengan penuh percaya diri menuju tujuan mereka masing-masing. Kamu berdiri membeku, takut jika mengambil satu langkah ke kiri atau ke kanan, kamu akan tersesat selamanya.

Bagi banyak orang dewasa muda, perasaan "membeku" ini bukan cuma imajinasi. Ini adalah realita emosional sehari-hari yang sangat melelahkan.
Mengapa Kita Begitu Takut āSalah Jalanā?
Fase Emerging AdulthoodĀ & Eksplorasi Tanpa Kepastian
Seorang Psikolog, Arnett, J. (2000) menyatakan bahwa orang-orang dalam rentang usia 18-29 tahun sedang mengalamiĀ masa transisi yang unik:Ā Bukan lagi remaja, namun juga belum sepenuhnya menjadi orang dewasa yang mapan. Fase ini disebut sebagai fase Emerging Adulthood. Studi ilmiah terbaru juga menemukan bahwaĀ ketidakpastian karier dan kecemasan masa depan di fase ini makin meningkat di era modern, karena melimpahnya opsi yang justru memicu beban mentalĀ saat hendak membuat keputusan penting (Buzinski et al., 2021).
Paradox of ChoiceĀ & Kelumpuhan Analisis
Logikanya, makin banyak pilihan, makin bebas kita, kan? Ternyata tidak selalu! Konsep klasikĀ The Paradox of ChoiceĀ menjelaskan bahwa semakin banyak opsi yang kita miliki, semakin tinggi kecemasan yang kita rasakan. Ini karena kita merasa tertekan untuk memilih opsi terbaikĀ diantara begitu banyaknya pilihan (Schwartz, 2004). Apalagi di era digital ini, paparan informasi dan pilihan yang tidak terbatas semakin meningkatkan resiko kecemasan dan penyesalan setelah mengambil keputusan, yang dapat berujung pada Kelumpuhan Analisis: Kondisi dimana kita terlalu banyak berpikir hingga tidak bisa melangkah sama sekali (Misuraca & Fasolo, 2021).
Anticipatory RegretĀ & FoMO/FoBO di Era Media Sosial
Rasa takut āsalah jalanā seringkali muncul ketika kita membayangkan skenario burukĀ di masa depan, dimana kita menyesal atas keputusan yang bahkan belum kita ambilĀ (Landman, 1993). Fenomena ini diperparah oleh paparan media sosial yang menambah kerentanan kita akan Fear of Missing Out (FoMO) dan Fear of Better Options (FoBO), yang membuat kita cenderung membandingkan diri dengan pencapaian orang lainĀ di media sosial (Roberts & David, 2023).
Salah satu alasan utama kecemasan ini begitu menyiksa adalah karena kita dibesarkan dengan
Mitos Jalur Linier:
Sekolah ā Kuliah ā Kerja sesuai jurusan ā Naik jabatan ā Menikah ā Berkeluarga ā Pensiun bahagia
Padahal,Ā realitanya: Kehidupan dewasa tidak pernah berjalan dalam garis lurus.Ā

Banyak orang yang beberapa kali berpindah jalur karier (career-shifting) sebelum akhirnya menemukan yang sesuai dengan kebutuhannya. Banyak yang harus mencari jalan sendiri karena tidak memiliki akses pendidikan. Ada juga yang harus mengambil jeda (gap yearĀ atau career break) karena alasan kesehatan, demi merawat keluarga, atau terpaksa memulai semuanya dari nol akibat krisis keuangan dan dinamika industri yang tak terduga.
Dengan kata lain, kehidupan dewasa yang sebenarnya jauh lebih cair dan kompleks daripada āpetaā yang digambarkan oleh masyarakat. Tidak ada satu pun timeline pasti yang berlaku untuk semua orang. āPetaā pada keberhasilan pun tidak hanya satu; Sama halnya dengan suatu destinasi (cafe favoritmu, misalnya), bukankah seringkali ada lebih dari satu jalan yang dapat ditempuh untuk sampai ke sana? Kalaupun salah jalan, bukankah kita bisa berputar balik dan mencari jalan lain?
Dalam menjalani hidup yang dinamis, daripada memiliki satu āpetaā ideal atau bertahan di satu jalur kaku, yang lebih penting adalah memiliki fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi; Agar kita mampu bertahan ditengah dunia yang terus berubah-ubah (Restubog et al., 2020).
Bagaimana Cara Mengatasi Ketakutan āSalah Jalanā?

Ubah Mindset dari Maximizer Menjadi Satisficer
Berhentilah mencari pilihan yang 100% sempurna (maximizing), karena itu pemicu utama stres. Pakailah prinsip satisficing: tetapkan kriteria yang "cukup baik", pilih opsi yang memenuhi kriteria tersebut, lalu jalani tanpa terus melirik ke belakang.Ā
Anggap Hidup sebagai "Eksperimen Data"
Jika pilihanmu saat ini ternyata tidak sesuai harapan, bukan berarti kamu gagal. Kamu hanya sedang mengumpulkan data berhargaĀ tentang apa yang cocok dan tidak cocok untuk dirimu.Ā
Ingat konsep āJalan Dua Arahā
Sebagian besar keputusan di usia 20-an bukan vonis mati. Jika kamu masuk ke sebuah jalan dan ternyata tidak cocok, kamu selalu bisa berbalik arah dan memilih jalan baru dengan membawa pengalaman yang sudah kamu dapatkan.Ā
Batasi Suara Luar (Noise)Ā & Fokus pada Diri Sendiri
Media sosial hanyalah highlight hidup orang lain. Batasi konsumsi konten yang memicu cemas, dan kurangi mengharapkan validasi dari orang lain. Fokus pada hal-hal yang bisa kamu kendalikan saat ini.
Pada akhirnya, salah arah atau keraguan dalam bentuk apapun bukan berarti tersesat tanpa harapan. Mungkin, itulah cara hidup mengajarkan jalan mana yang benar-benar pas untukmu.

Sumber:
Arnett, J. J.Ā (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469ā480.Ā https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.5.469
Buzinski, C. A., Perrotte, J. K., & Gonzales, R.Ā (2021). Future anxiety, career uncertainty, and mental well-being in emerging adults. Journal of Adult Development, 28(3), 215ā226.
Landman, J.Ā (1993). Regret: The persistence of the possible. Oxford University Press.
Misuraca, R., & Fasolo, B.Ā (2021). Maximizing and satisficing in the digital age: How choice overload impacts decision satisfaction and anxiety. Frontiers in Psychology, 12, 638421.Ā https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.638421
Restubog, S. L. D., Ocampo, A. C. G., & Wang, L.Ā (2020). Taking control amidst global uncertainty: Building career resilience and adaptability in young professionals. Journal of Vocational Behavior, 119, 103440.Ā https://doi.org/10.1016/j.jvb.2020.103440
Roberts, J. A., & David, M. E.Ā (2023). The Fear of Missing Out (FOMO) and Fear of Better Options (FOBO) on social media: Implications for career anxiety and life satisfaction in young adults. Computers in Human Behavior, 138, 107481.Ā https://doi.org/10.1016/j.chb.2022.107481
Schwartz, B.Ā (2004). The Paradox of Choice: Why More Is Less. Harper Perennial.
Kehilangan Arah di Usia 20-an? Kenali Mitos Jalur Linier




Komentar