top of page

Love-Talk #06: Merdeka dari Penjara Standar Hidup Orang Lain

20 Agu
3 menit membaca

Love-Talk #06: Merdeka dari Penjara Standar Hidup Orang Lain


Di era media sosial ini, hanya dalam hitungan detik kita bisa dengan mudah menyaksikan pencapaian, gaya hidup, hingga potongan momen bahagia orang lain. Menggeser layar ponsel sebentar saja tak jarang membuat kita mulai bertanya-tanya pada diri sendiri: "Apakah pencapaianku sudah cukup?", "Mengapa rasanya aku tertinggal jauh di belakang?", atau "Apakah jalan hidup yang kupilih sudah benar?". Tanpa kita sadari, paparan informasi yang tak ada hentinya perlahan-lahan membuat kita cemas dan mengadopsi standar hidup orang lain yang belum tentu sesuai dengan diri kita sendiri.


Split-screen Instagram Live of two smiling women in black hijabs; UI shows drlove.id, bluesnte, LIVE, and comment prompts.

Pada hari Sabtu (15/08/26), menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81, dr. Love (bersama Sintia Kumala Dewi, S.Psi., Welas Asih Wellness Center Associate) mengadakan Love-Talk #06 bertema "Merdeka Jadi Diri Sendiri: Lepas dari Penjara Standar Hidup Orang Lain". Love-Talk merupakan serangkaian Talk Show yang diadakan di Instagram Live @drlove.id, di mana kami membedah isu-isu seputar relasi (relationship), kesehatan emosional (emotional health), dan self-love melalui sudut pandang psikologi. Seri ini dirancang sebagai sarana bagi mereka yang ingin membenahi kesehatan mental dan emosionalnya. Pada sesi kali ini, kami membedah mengapa kita begitu mudah terjebak dalam membandingkan diri dan bagaimana cara kembali menemukan kontrol atas hidup sendiri.


Mengapa Kita Sering Merasa Tertinggal?

Menurut Kak Sintia, wajar jika kita merasakan emosi tertentu setelah melihat pencapaian orang lain. Namun, ada hal penting yang sering kali kita lupakan: konten yang kita lihat di media sosial hanyalah potongan sebagian kecil dari hidup seseorang. Kita melihat foto atau video hasil akhir yang tampak sempurna, tetapi kita tidak melihat proses panjang, kegagalan, dan perjuangan di baliknya.


Several people hold smartphones, scrolling a social media feed indoors, with a flower post visible on one screen.

Fenomena ini seringkali memicu alur psikologis:


Stalking → Comparing → Fatigue


Berawal dari sekadar melihat-lihat (Stalking), perlahan kita mulai membandingkan diri (Comparing), hingga berujung pada kelelahan emosional (Fatigue) yang membuat kita bergelut dengan rasa cemas, rasa tertinggal, atau emosi negatif lainnya.


Langkah Sederhana Memulai Kemerdekaan Diri

Kalau kamu mulai merasa tertekan oleh standar hidup orang lain di internet, coba terapkan beberapa langkah praktis di bawah ini!


Person in a white hoodie sits at a table, looking down at a glowing pink tablet under blue-purple light.

  1. Pertanyakan Kembali Targetmu

    Saat tergiur mengejar sesuatu, coba ambil jeda dan tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang sebenarnya aku inginkan dari melakukan hal ini?", atau “Apakah keinginan ini sesuai dengan nilai yang selama ini kupegang?”. Langkah ini membantu membedakan apakah target tersebut murni keinginanmu atau sekadar dorongan sementara yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.


  1. Kenali Batasan (Boundaries) Media Sosial

    Secara umum, konten di media sosial pada dasarnya bersifat netral, sisanya tergantung pada respons kita pribadi. Jika beranda media sosial mulai membuatmu memvalidasi rasa kurang dan merasa buruk tentang diri sendiri, jadikan itu sebagai sinyal untuk istirahat sejenak dari media sosial dan redirect fokus pada dirimu sendiri.


  1. Record Every Small Step

    “Bandingkan dirimu hari ini dengan dirimu yang kemarin, bukan dengan orang lain.”, kutip Kak Sintia. Kadang kita merasa belum berhasil karena belum mencapai “titik sukses” yang kita targetkan, padahal dalam upaya mencapai titik itu, kita sudah banyak berprogres. Catatlah setiap progres dan keberhasilan kecil yang sudah kamu capai dalam perjalananmu. Ini akan membantu kamu melihat bahwa kamu sebenarnya terus melangkah maju.



Climber on a rocky cliff raises both fists in celebration above a misty mountain valley, ropes and gear on his harness.

"Merdeka jadi diri sendiri bukan berarti kita terbebas sepenuhnya dari lingkungan, melainkan ketika kita memiliki kontrol penuh untuk tahu apa yang kita butuhkan, apa yang tidak kita butuhkan, dan berani mengambil tindakan untuk diri sendiri."


Jadi, apakah kamu sudah menjalani hari-hari sesuai dengan standar hidupmu, bukan standar hidup orang lain?


Buat kamu yang ketinggalan Love-Talk kemarin, yuk tonton selengkapnya di sini!  https://www.instagram.com/reel/DcD9RBlCQ-9/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

Komentar


©2022 oleh Relive Psychological Service Center. Dibuat dengan bangga menggunakan Wix.com

bottom of page